Komunikasi publik: survei pasien, hari jadi kampus, dan policy brief
Tiga materi dengan pembaca yang berbeda: pasien rumah sakit, sivitas kampus, dan pembaca kebijakan.
| Tahun | 2025 – 2026 |
|---|---|
| Bidang program | Komunikasi publik |
| Format | Cetak, Publikasi |
| Peran saya | Perancang visual dan penata letak. Substansi disusun bersama unit humas dan penulis kebijakan; saya menangani tata letak dan ilustrasi. |
Situasi
Materi kehumasan sering dibuat dengan tata letak yang sama untuk semua pembaca, sehingga undangan mengisi survei, poster hari jadi, dan policy brief terlihat seperti tiga lembar dari satu templat. Padahal ketiganya dibaca dengan cara yang sangat berbeda.
Sasaran
Pasien dan keluarganya yang membaca sambil menunggu di ruang tunggu, sivitas kampus dan alumni yang melihat poster di gedung, serta pembaca kebijakan yang membaca policy brief sampai halaman terakhir.
Pendekatan
Saya menyesuaikan tata letak pada cara pembacaannya. Undangan survei memakai satu wajah dan dua kode QR besar supaya bisa dipindai dari jauh, poster hari jadi memakai satu angka besar sebagai pusat perhatian, dan policy brief memakai struktur bertingkat dengan ringkasan eksekutif di depan karena pembacanya membaca cepat lalu memutuskan apakah akan melanjutkan.
Pengerjaan dan kepatuhan
Undangan survei dan poster hari jadi berukuran A4 untuk cetak, policy brief A4 dengan kolom teks yang lebih sempit agar nyaman dibaca lebih dari satu halaman. Pada policy brief, ringkasan eksekutif diletakkan di dalam satu blok berwarna supaya pembaca yang hanya membaca satu bagian membaca bagian yang benar.
Hasil
Undangan survei dan poster hari jadi sudah dipublikasikan dan digunakan melalui kanal resmi lembaganya masing-masing, sedangkan policy brief-nya belum diterbitkan.
Dasar bukti Bukti yang ada hanya berkas materi dan nomor terbit kanal resmi. Tidak ada data jumlah responden survei atau pembaca policy brief, sehingga dampak pada kebijakan tidak dapat diklaim.
Refleksi
Policy brief sempat saya tata dengan teks selebar halaman, dan hasilnya melelahkan dibaca. Mempersempit kolom teks menambah jumlah halaman, tetapi membuat isinya benar-benar terbaca.
Contoh karya
Studi kasus berikutnya: Internet sehat masa depan kuat: poster literasi digital untuk pelajar →